3 CARA MEMBACA CANDLESTICK

3 CARA MEMBACA CANDLESTICK

Pola Candlestick atau Candlestick pattern pertama kali dipopulerkan di Jepang pada abad ke-17. Saat itu, pelopor teknik analisa Bernama Munehisa Homma menciptakan pola tersebut yang digunakan untuk melihat pergerakan harga beras.

Meskipun terlihat tidak mudah, cara memba candle stick sebenarnya tidak terlalu sulit untuk dipahami. Pasalnya, dalam analisa teknikal terdapat salah satu asumsi yang menerangkan bahwa sejarah pasti akan dalam pola pergerakan harga di masa yang akan datang.

 

Arti pola Candlestick

candlestick

Pola Candlestick merupakan salah satu Teknik yang digunakan melihat potensi harga dalam trading. Jadi, apa arti dari Candlestick? Pola Candlestick merupakan metode diagram kuno berasal dari Jepang untuk meningkatkan keakuratan dalam menghitung. Teknik ini menjelaskan dampak sentimen investor terhadap harga. Analisa tersebut biasa dilakukan untuk menentukan waktu yang tepat untuk masuk dan keluar dalam trading. Teknik tersebut “harus” dipahami oleh seorang trader karena menjadi salah satu kunci cerdas dalam investasi. Namun, yang perlu diperhatikan bahwa analisa dengan menggunakan pola ini termasuk kategori direksional. Artinya, analisa ini juga tergantung pada intuisi subjektif seorang trader dalam memahami berbagai pola. Teknik ini bisa menghasilkan profit yang konsisten jika sejalan dengan pengalaman dan jam terbang trader tersebut.

 

Cara membaca Candlestick

Untuk mempelajari berbagai macam pola Candlestick, anda harus mengetahui terlebih dahulu bagaimana cara membacanya. Terdapat tiga hal yang mendasari cara membaca pola candlestick yaitu empat posisi harga, warna merah dan warna hijau, dan juga arah sumbu.

Berikut penjelasannya:

 

1. Candlestick mengandung empat posisi harga

Sebelum kita lebih lanjut memahami pola candlestick, mari kita pahami dulu bagaimana cara membaca sebuah candlestick. Dalam candlestick, terdapat empat indikator utama:

  • Open : harga yang terdapat pada saat pembukaan pasar hari ini
  • Low: titik harga terendah pada hari ini
  • High: titik harga tertinggi pada hari ini
  • Closed: titik harga dimana pada saat market telah ditutup

Badan candlestick juga menjadi tolak ukur seberapa jauh harga telah mengalami pergerakan selama durasi satu candlestick.

 

2. Apa yang menjadi perbedaan candlestick warna merah dan hijau?

Sementara untuk warna candlestick, terdapat dua yaitu merah dan hijau. Candlestick yang berwarna merah dan maupun hijau, warna tersebut menandakan sebuah candlestick berbentuk bullish atau bearish. Apabila candlestick berwarna hijau, itu menandakan harga pada saat market dibuka lebih tinggi daripada harga pada saat market tutup. Pola tersebut dinamakan candlestick bullish. Namun apabila warna merah tersebut menandakan harga terbuka lebih rendah daripada penutupan (candlestick bearish). Apabila candlestick berwarna hijau, candlestick tersebut tentu menunjukkan harga bergerak ke atas. Begitupun sebaliknya. Apabila kita mengarahkan pointer ke arah candlestick tersebut, maka akan menunjukkan informasi seputar perdagangan valas atau komoditi di hari tertentu, misalnya dibuka di harga berapa yang terendah dan berapa harga yang tertinggi, dan ditutup di harga berapa. Beberapa aplikasi trading menawarkan fitur untuk merubah warna candlestick. Jadi warna pada candlestick tersebut dapat anda rubah sesuai dengan keinginan anda.

 

3. Kepala atau Sumbu Candlestick

Sementara itu terdapat juga “sumbu” candlestick atau biasa disebut wick yang pada umumnya disebut dengan shadow. Sumbu tersebut menunjukkan fluktuasi harga yang bergerak sesuai dengan durasi candlestick. Perbandingan range badan dan sumbu ini juga wajib anda perhatikan. Ketika nilai komoditi atau forex mengalami volatilitas, maka range sumbunya akan lebih panjang dari besarnya badan. Ketika terlihat sumbu panjang mengarah ke bawah atau membentuk ekor, hal tersebut menandakan para pelaku pasar mendorong pergerakan harga untuk turun, akan tetapi mereka tidak cukup kuat untuk menahan harga berada di posisi rendah. Pada saat yang bersamaan, pelaku pasar lain justru melakukan sebaliknya, dengan melakukan pembelian sampai akhirnya menyebabkan harga terdorong naik. Fenomena ini biasa disebut bullish reversal. Begitu juga sebaliknya, pada saat sumbu berada di atas atau biasa disebut dengan kepala, hal tersebut menandakan bahwa trader atau investor yang melakukan take profit lebih banyak daripada jumlah trader atau investor yang sedang menahan posisi atau hold posisi. Hal tersebut menandakan terjadinya bearish reversal.